Mengangkat Kejayaan Lada Babel dengan Sistem Resi Gudang

Dalam menghadapi persaingan di era globalisasi saat ini, diperlukan kesiapan dalam program dan rencana yang matang untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat di bidang
ekonomi khususnya perdagangan. Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan
tersebut, diperlukan instrumen dalam penataan sistem perdagangan yang efektif dan
efisien, sehingga harga barang yang ditawarkan dapat bersaing di pasar global.

Agar efisiensi dalam perdagangan dapat tercapai perlu dukungan pemerintah dalam menjaga kondisi perdagangan yang ada dan tertata melalui sistem pembiayaan perdagangan yang mampu diakses oleh para pelaku usaha secara tepat, terutama sistem pembiayaan perdagangan bagi usaha kecil dan menengah, termasuk petani yang umumnya menghadapi pembiayaan, karena keterbatasan akses dan jaminan kredit.

Berawal dari pengendalian harga dan persedian nasional, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang Undang No. 9 Tahun 2006 tentang  sistem resi gudang yang menjadi instrumen penting dan efektif dalam sistem pembiayaan perdagangan.

Resi gudang merupakan dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang. Hal ini terdapat pada pasal 1 ayat 2 UU no 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Dokumen ini berlaku apabila semua persyaratan yang ditentukan UU no 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang sudah dipenuhi, dokumen bukti kepemilikan dapat dipindahtangankan dengan cara endorsement. Sehingga resi gudang dapat diperdagangkan, diperjual belikan, dipertukarkan, ataupun digunakan sebagai jaminan bagi pinjaman, maupun dapat digunakan untuk penyerahan barang dalam transaksi derivatif seperti halnya kontrak berjangka.

Dengan adanya Sistem Resi Gudang dapat memfasilitasi para petani dalam pemberian
kredit bagi petani dan dunia usaha dengan agunan barang yang disimpan di
gudang. Sistem Resi Gudang juga bermanfaat dalam menstabilkan harga pasar
dengan memfasilitasi cara penjualan yang dapat dilakukan sepanjang tahun. Disamping itu, Sistem Resi Gudang dapat digunakan oleh Pemerintah untuk
pengendalian harga dan persediaan nasional.

Sementara itu, Perdagangan resi gudang di Indonesia diatur oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) yang merupakan organisasi di bawah Menteri Perdagangan Republik Indonesia yang diberi wewenang untuk melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan pelaksanaan sistem resi gudang.

Sedangkan yang berwenang dalam melakukan penatausahaan resi gudang dan derivatif resi gudang di Indonesia yang meliputi pencatatan, penyimpanan, pemindahbukuan kepemilikan, pembebanan hak jaminan, pelaporan, serta penyediaan sistem dan jaringan informasi adalah "Pusat Registrasi Resi Gudang" yang merupakan badan usaha yang berbadan hukum.

Berkaca pada kejayaan lada masa lalu, Gubernur Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman membuat program terbarunya yakni Resi Gudang Lada yang bertujuan untuk memberdayakan petani lada di Bangka Belitung dengan pengelolaan resi gudang lada dikelola menggunakan sistem syariah.

Sistem syariah yang digunakan menggunakan perjanjian mudharabah atau kerja sama antara dua pihak atau lebih melalui kesepakatan bersama dan waktu yang telah ditentukan. Sistem pengelolaan lada dengan resi gudang ini dimaksudkan agar petani yang menitipkan ladanya mendapatkan harga yang tinggi.

Dalam prosesnya pemilik modal (shahibul amal) menitipkan modal berupa lada yang telah dilakukan pemeriksaan sebelumnya dan mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal, dimana pengelola gudang akan mengeluarkan resi gudang kepada pemilik modal tersebut.

Dengan sistem resi gudang lada, petani dapat pembayaran dari jaminan lada yang dititipkan. Petani mendapat harga lada dengan harga yang telah disepakati saat penitipan awal serta total selisih lada yang ditetapkan saat penitipan awal. Misalnya, petani menitipkan lada 100 kilogram (kg), harga lada saat penitipan itu Rp 70 ribu, berarti dia bisa mendapat uang jaminan penitipan  Rp5,6 juta, karena dibayarkan 70 persen dimana penjaminan ini dapat ditukarkan kepada Bank yang bekerjasama dengan program tersebut. Sisanya, misalkan petani mau menjual di bulan depan dengan harga Rp 80 ribu per kilogram, sekitar delapan juta rupiah, nanti sisanya Rp 3,4 juta dibayarkan. Jadi, petani diuntungkan, tapi untuk penitipan resi ada hitungannya.
Sehingga sisa pembayaran 30 persen yang belum dibayarkan akan diberikan saat pemilik lada mengingikan untuk menjual dengan harga maksimal (harga pasar), sehingga para petani yang menitipkan ladanya dengan sistem resi gudang akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah berkomitmen untuk meningkatkan pasar dan kualitas lada yang ada di Babel melalui pembinaan dan koordinasi bagi para petani khususnya dalam peningkatan hasil lada yang ditanam, dengan mengunakan bibit dan pupuk yang tepat.

Seiring dengan visi misi Gubernur Kepulauan bangka Belitung dalam rangka meningkatkan kualitas dan menjaga stabilitas harga lada dan pemasaran lada ke pasar dunia secara global, diluncurkanlah sistem resi gudang lada yang telah diresmikan pertama di Desa Puding Besar. Dengan adanya sistem resi gudang ini, petani yang ada di Pulau Bangka dan Pulau Belitung dapat terbantu dalam menjaga kualitas dan harga pasar lada di tingkat nasional maupun global.

Melalui sistem penjualan komunal, petani lada akan langsung menuai hasil taninya. Selain resi gudang disebut mampu menjaga stabilitas harga lada dan pemasaran lada ke dunia, secara global juga kualitas lada  Babel pun diperhatikan dengan pembersihan bakteri lada.

Sistem Resi Gudang ini telah efektif beroperasi pada tanggal 22 November 2017 yang diproyeksikan akan dibuka lagi gudang gudang lain yang akan menampung lada para petani melalui sistem resi gudang.

Untuk operasi pertama sistem resi gudang ini dilakukan di kawasan Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka Provinsi Kepualuan Bangka Belitung dengan 14 komoditi yang dapat dijadikan agunan untuk pembiayaan di perbankan yakni gabah, jagung, beras, kopi, karet, lada, kakao, rumput laut, garam, teh, kacang kedelai, gula pasir, gambir dan timah.

Program terobosan Erzaldi ini juga mendapat sambutan hangat dari kalangan petani. Dengan program ini, para petani khusunya lada saat ini merasakan langsung hasil tani yang ditanam sekaligus melanjutkan untuk penanaman selanjutnya. 

Begitu juga bagi pelaku usaha sektor agrobisnis dan agroindustri dengan adanya sistem resi gudang ini, akan memberikan kemudahan dalam memperoleh komoditi yang berkualitas, karena komoditi yang disimpan di gudang Sistem Resi Gudang telah melalui uji mutu yang dilakukan oleh lembaga yang disebut lembaga penilai kesesuaian.

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung melalui sistem resi gudang ini berkeyakinan akan mengangkat kejayaan lada yang pernah di terima oleh Bangka Belitung dimasa yang lalu. (Sentosa).

 

 

Penulis: 
Sentosa Lumban Toruan, S.Sos
Sumber: 
HumasPro