Penerapan Perda Nomor 2 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok

Bahaya rokok dan asapnya sangat menggangu bagi kesehatan dan dampaknya yang begitu besar. Untuk mengantisipasi itu Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  bersama DPRD mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Tujuannya tidak lain untuk kesehatan masyarakat dan para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 pun mengamanatkan kepada pemerintah daerah untuk mengatur penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pengaturan ini untuk mencegah dan mengatasi dampak buruk dari asap rokok di wilayah masing-masing. Atas dasar itulah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluarkan Perda aturan  KTR.

Perda Nomor 2 Tahun 2015 isinya mengatur Kawasan Tanpa Rokok (KTR), diantaranya tempat fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang diterapkan.

Merujuk pada Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di tempat kerja, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah menerapkannya namun belum maksimal. Misalnya saja membuat area untuk merokok bagi perokok di perbanyak serta diperjelas tempatnya dan menindak tegas para perokok yang melanggar aturan menyebabkan dampak bagi yang tidak merokok.

Tindakan tegas tentunya harus dilakukan bagi yang melanggar Perda KTR dan tindakan tegas tersebut tentunya harus sesuai dengan prosedur yang telah diatur dalam Perda Nomor 2 Tahun 2015 sebagai sanksi adminsitratif berupa teguran lisan, peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan dan pencabutan izin. Langkah-langkah tersebut apabila suda di terapkan dan masih dilanggar maka ketentuan pidana harus di terapkan (Bab IX, pasal 13).

Jika sudah dilakukan langkah-langkah prosedur tertulis diatas maka jika tidak mengindahkan bisa ditindak tegas melalui tindak pidana sanksi kurungan atau denda berupa sejumlah uang yang sudah ditetapkan dalam aturan tersebut. Dari denda dan pidana kurungan ringan sampai sedang dan tinggi.

Berdasarkan sanksinya tertuang dalam Perda  Nomor 2 Tahun 2015, sanksi pidana yang melangar KTR, di mulai dari pidana kurungan (3) tiga hari atau paling banyak denda Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah) dan jika mempromosikan atau menjual di KTR kena pidana kurungan 5 (lima hari) atau paling banyak denda Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah). Dan setiap pimpinan atau penangung jawab KTR melanggar maka kena pidana kurungan (7) tujuh hari atau paling banyak denda Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).

Sebenarnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) tanggung jawab kita bersama baik individu, masyarakat, lembaga-lembaga pemerintah dan nonpemerintah untuk melindungi hak-hak generasi sekarang maupun yang akan datang atas kesehatan diri dan lingkungan hidup yang sehat.

Provinsi lain pun melakukan hal yang sama, misalnya saja Walikota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta membuat Perda nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), tentunya dengan alasan yang sama tentang bahaya asap rokok.

Mengutip tulisan Tisna Surya Adi Prenanto Konsultan Manajemen, SDM, GCG, CSR Risk Manajemen: Hasil penelitian kedokteran di zaman sekarang memperkuat penemuan dunia kedokteran di masa lampau bahwa merokok menyebabkan berbagai jenis penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, juga merusak sistem reproduksi, pendeknya merokok merusak seluruh sistem tubuh.

Oleh karena itu, seluruh negara menetapkan undang-undang yang mewajibkan dicantumkannya peringatan bahwa merokok dapat mebahayakan kesehatan tubuh pada setiap bungkus rokok.

Karena itu, sangat tepat fatwa yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga fatwa di dunia Islam, seperti Dewan Fatwa Arab Saudi yang mengharamkan rokok, melalui fatwa nomor: (4947), yang menyatakan, “Merokok hukumnya haram, menanam bahan bakunya (tembakau) juga haram serta memperdagangkannya juga haram, karena rokok menyebabkan bahaya yang begitu besar.

Rokok mengandung ribuan racun yang secara kedokteran telah terbukti merusak dan membahayakan kesehatan. Bahkan membunuh penggunanya secara perlahan, padahal Allah telah berfirman:

وَلَاتَقْتُلُواأَنْفُسَكُمْإِنَّاللَّهَكَانَبِكُمْرَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisaa: 29).

 

 

Penulis: 
Mislam (Pranata Humas Pemprov Babel)
Sumber: 
Humas dan Protokol